ADVERTORIAL — Konten ini merupakan kerja sama GerbangCenderawasih.com dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua Tengah.
Bagaimana sagu, ubi, ikan, atau sayur dari kebun warga bisa naik kelas menjadi produk yang laku di pasar dan tetap aman disantap? Pertanyaan itulah yang dibedah bersama para pendamping kelompok TPOJ dalam pelatihan di Kabupaten Mimika.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua Tengah menggelar Training of Trainers (ToT) untuk tenaga pendamping kelompok Tanam, Petik, Olah, dan Jual (TPOJ) pada Kamis hingga Sabtu, 10–12 September 2026. Menurut MaritimePosts, pelatihan berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Timika, Kabupaten Mimika, dengan melibatkan Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) sebagai mitra akademik.
Kegiatan dibuka pada hari pertama oleh Staf Ahli Gubernur Papua Tengah yang membidangi perekonomian dan pembangunan, Herman Kayame. Ia mengingatkan bahwa TPOJ tidak berhenti pada urusan bercocok tanam dan berdagang. “TPOJ bukan sekadar menanam, memetik, mengelola lalu menjual, tetapi terdapat rantai pemberdayaan UMK yang mengolah potensi tanah dan pekarangan menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya, seperti dikutip Nokenlive.com.
Herman menyebut sagu, umbi-umbian, ikan, dan sayuran sebagai kekayaan pangan lokal Papua Tengah yang bisa diolah menjadi produk sehat bernilai ekonomi, asalkan kebersihan, keamanan, gizi, dan mutunya terjaga. “Kalau kita berbicara tentang pangan, kita tidak hanya berbicara seberapa banyak yang diproduksi atau dijual, tetapi juga tanggung jawab terhadap kesehatan orang yang mengonsumsi,” katanya kepada Nokenlive.com. Menurut Herman, peserta ToT dilatih mengenali risiko kontaminasi di setiap tahap, dari menanam dan memetik hingga mengolah, menyimpan, dan menjual, agar pangan yang sampai ke warga aman dikonsumsi.
Delapan Kabupaten, Target 30 Peserta per Kabupaten
Kepala DP3AKB Papua Tengah, Agustinus Bagau, menjelaskan bahwa program ini menjangkau delapan kabupaten. Enam di antaranya menjadi prioritas, yakni Puncak Jaya, Puncak, Intan Jaya, Paniai, Deiyai, dan Dogiyai, sedangkan Mimika dan Nabire ikut dilibatkan. “Peserta yang dilatih akan kembali ke kabupaten masing-masing untuk melatih kelompok di kampung atau wilayahnya. Tahun ini kami menargetkan 30 peserta dilatih di setiap kabupaten,” kata Agustinus, seperti dikutip Nokenlive.com.
Menurut Agustinus, TPOJ merupakan program inovasi sekaligus prioritas Gubernur Papua Tengah. Program ini, lanjutnya, searah dengan upaya memperkuat peran perempuan melalui pelatihan usaha kecil agar keluarga lebih mandiri dan sejahtera.

Tiga Dosen Gizi FKM Unhas Turun Tangan
MaritimePosts melaporkan tiga dosen Departemen Gizi FKM Unhas mengisi sesi yang saling melengkapi. Prof. Dr. Aminuddin Syam, SKM., M.Kes., M.Med.Ed. membawakan materi keamanan pangan sebagai syarat mutlak pengolahan pangan lokal, mulai dari tahap produksi, pengolahan, penyimpanan, sampai distribusi. Ulfah Najamuddin, S.Si., M.Kes., Ph.D. membahas diversifikasi dan inovasi pangan lokal untuk mendukung TPOJ, sementara Andi Imam Arundhana, S.Gz., MPH., Ph.D. mengulas penguatan edukasi gizi sebagai bekal tim pendamping. Jalannya pelatihan difasilitasi oleh Yessy Kurniati, SKM., M.Kes.
Lewat pola ToT, peserta tidak hanya menerima ilmu, tetapi disiapkan untuk menularkannya kepada kelompok TPOJ di daerah masing-masing. Media yang sama menyebut kolaborasi pemerintah provinsi dan Unhas ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-2 tentang tanpa kelaparan dan tujuan ke-17 tentang kemitraan.
Peluang Masuk Rantai Pasok MBG
Produk olahan kelompok TPOJ juga dinilai berpeluang menyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Herman menegaskan peluang itu harus dijemput dengan persiapan. “Pemenuhan standar merupakan syarat awal, bukan jaminan otomatis diterima sebagai pemasok MBG. Pemerintah dan tenaga pendamping harus mempersiapkan masyarakat agar siap ketika peluang itu datang,” ujarnya, dikutip Nokenlive.com. Menurut Herman, standar keamanan dan kualitas produk harus dipenuhi lebih dulu sebelum produk masuk rantai pasok. MaritimePosts juga mencatat, sebagian produk yang memenuhi standar berpotensi ikut memenuhi kebutuhan pangan program pemerintah, termasuk MBG.
Seusai pelatihan, para peserta kembali ke kabupaten masing-masing untuk melatih kelompok TPOJ di kampung. MaritimePosts menyebut tujuan akhirnya adalah pangan lokal yang tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing yang manfaatnya langsung dirasakan warga. Ikuti perkembangannya di Gerbang Cenderawasih.
Baca juga: Tak Harus Nasi, DP3AKB Siapkan Mama-Mama Papua Olah Pangan Lokal untuk MBG
Sumber: MaritimePosts, Nokenlive.com.


Komentar