Internasional
Home » Harga Pangan Dunia Naik, Apa Dampaknya bagi Nabire?

Harga Pangan Dunia Naik, Apa Dampaknya bagi Nabire?

Ladang sereal kuning-hijau di latar depan dengan satu pohon berjumbai di kejauhan dan langit biru berawan.
Foto: ©FAO/Mahmoud Shamrouk

Sudah cek harga beras di pasar langgananmu belakangan ini? Kalau terasa lebih mahal, kamu tidak sendiri — dan penyebabnya ternyata bermula jauh dari Nabire.

Ladang sereal kuning-hijau di latar depan dengan satu pohon berjumbai di kejauhan dan langit biru berawan.
Foto: ©FAO/Mahmoud Shamrouk (https://www.fao.org/newsroom/detail/supply-concerns-drive-fao-food-price-index-higher/en)

Pada Jumat, 4 September 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) merilis Indeks Harga Pangan untuk Agustus 2026. Rata-ratanya berada di 133,3 poin, naik 1,9 persen dari Juli 2026 dan 2,5 persen dibanding Agustus 2025. Kelima kelompok komoditas yang dipantau — sereal, minyak nabati, daging, susu, dan gula — sama-sama mencatat kenaikan.

Pemberitaan Xinhua yang dikutip ANTARA menyebut level ini sebagai yang tertinggi sejak akhir 2022. FAO mencatat angka Agustus 2026 masih 16,8 persen di bawah puncak Maret 2022. Kenaikan paling tajam terjadi pada indeks gula, naik 11,9 persen secara bulanan ke level tertinggi sejak Juni 2025. Lonjakan itu dipicu kekhawatiran pasokan global, cuaca panas-kering di Uni Eropa, serta penurunan produksi di Brasil.

Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO, menyebut kenaikan harga itu sebagai peringatan kembalinya premi risiko ke pasar pangan dunia. Guncangan iklim, ketegangan geopolitik, dan gangguan logistik mempersempit ekspektasi pasokan. FAO mencatat tiga pemicu utama: cuaca ekstrem, penutupan Selat Hormuz, dan gangguan logistik ekspor di Laut Hitam.

FAO memproyeksikan produksi beras dunia turun 1,9 persen pada musim 2026/2027 menjadi 553,1 juta ton. Penurunan ini terjadi akibat menyusutnya margin produsen dan cuaca yang dipicu El Niño. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Niño bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas kuat 62 persen. Kondisi itu membuat musim kemarau lebih kering dan panjang dari biasanya.

RUU Satu Data Menuju Sah, Apa Dampaknya bagi Papua Tengah?

Kondisi tersebut langsung berdampak hingga ke Papua Tengah. Hermawan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut Papua Tengah sebagai salah satu wilayah dengan harga beras medium lebih dari 10 persen di atas HET. Merespons itu, Perum Bulog Kantor Cabang Nabire menaikkan penjualan beras SPHP meningkat ke kisaran 60–70 ton setiap pekannya terhitung sejak Agustus 2026. Jumlah mitra penjualan juga bertambah dari 26 menjadi 48 mitra di seluruh Nabire, ujar Muhammad Rahadiyan Razak dari Bulog Nabire. HET beras SPHP di Nabire dipatok Rp13.500 per kilogram atau Rp67.500 per kemasan lima kilogram.

TNI melalui Kodim 1705/Nabire menggelar pasar murah bersubsidi pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 14 distributor serta menghadirkan sekitar 20 gerai yang menyediakan beras, gula, minyak goreng, dan produk UMKM. Danrem 173/Praja Vira Braja Brigjen TNI Vivin Alivianto menyebut langkah ini sebagai bentuk kepedulian TNI membantu warga menjangkau kebutuhan pokok.

Nabire bukan daerah penghasil beras, sehingga pasokan bergantung pada distribusi luar daerah. Biaya angkut dan gangguan logistik dunia ikut menentukan harga di rak toko seperti di pasar-pasar lokal yang kini ditata ulang pemerintah daerah. Guncangan yang bermula di Roma, tempat kantor pusat FAO berada, pada akhirnya terasa hingga di Pasar Kalibobo.

Jika menemukan harga beras SPHP di atas Rp13.500 per kilogram, warga diminta melapor ke Bulog Nabire. Sudah cek berapa harga beras di rumahmu pekan ini?

Baca juga: 82 Pedagang Direlokasi ke Taman Gizi, Lapak Dibagi Lewat Undian

Kadin Papua Tengah Tetapkan Lima Sektor demi Lepas dari Tambang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement